Relasi China-Amerika; sebuah relasi Friendly Enemy
“Rather than choose between friend or foe, Washington prefers both, a combination of containment and engagement, or “congagement.” As a friend who keeps our economy afloat and as a foe that justifies full-spectrum military spending, China is useful to the United States” John Feffer dalam Foreign Policy in Focus, 4 desember 2006
“China always regards itself as a weak, small, less powerful country,” China's ambassador to the UN Wang Guangya
Ada yang samar bahkan cendrung sumir mengenai hubungan antara China dan Amerika. Dalam banyak forum internasional yang melibatkan keduanya, ketersamaran ini memang tidak begitu tampak, namun akan sangat terasa adanya nuansa “permusuhan”, manakala kita mengkaji lebih dalam hubungan antara keduanya.
Bargain China semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi yang impresif, populasi-penduduk terbesar di dunia dan kekuatan militer yang kian modernized adalah beberapa factor penting yang bisa dikatagorikan sebagai capital china dalam field Bourdieu.
Juga pada aras ideology, China yang pernah disebut-sebut sebagai benteng terakhir komunisme, kini semakin terlihat “mesra” berselingkuh dengan neoliberal thought. Bergabungnya China dengan Rezim WTO adalah bukti yang paling telanjang mengenai argumentasi ini.
Seakan membenarkan Thesis Fukayama dalam The End of Ideology and the Last Man, Begitu pula dengan tumbuh kembang demokrasi di negeri tirai bambu itu. Tentu Demokrasi “model” China. Sebuah bentuk demokrasi yang agak melenceng dari ortodoxi demokrasi pada umumnya, jika kita mepersoalkan dominasi partai komunis dalam struktur politik. Namun, yang seringkali terlupakan adalah bahwa sirkulasi elit telah menjadi sesuatu proses politik yang niscaya dan berkala pasca 1988. Hingga ke pelosok-pelosok desa (remote areas). Bahkan dengan partisipasi aktif voters hampir 75 % populasi penduduk.
Dengan capital politik, ekonomi, dan social-budaya tersebut, China semakin percaya diri dalam memainkan perannya dipanggung per-politik-an dunia menyusul tumbangnya Uni Soviet, intensifikasi globalisasi, peristiwa-peristiwa horor disebagian Afrika seperti Rwanda, dan Somalia, dukungan security sistem yang bersifat multilateral dalam mana lingkungannya secara fundamental terus berubah dan juga kegagalan Amerika Serikat itu sendiri sebagai Policy Dunia dalam menciptaan sebuah New-Order di dunia yang kian menuntut kerjasama pelbagai aktor.
Pada saat yang sama, Amerika, negera super power yang tersisa pasca kontestasi diametrik ideologi bipolar coldwar, menampakkan karakternya yang paling aggresif dalam wajah politik unilateral. Kebijakannya ini tercermin jelas dalam “invasi” nya terhadap Irak.
Dititik ini, penulis berbagi kesepakatan dengan fefer yang dikutip diatas. Sukar bagi Amerika menampikkan sari eksistensial China yang juga semakin berpengaruh pada keseimbangan geopolitik-ekonomi internasional. Ini adalah soal bagaimana Amerika merespon arti keberadaan China pada konstelasi politik-ekonomi internasional dewasa ini.
China jelas berguna bagi Amerika. Terutama dalam bidang ekonomi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis, yang tulangpunggunya rata-rata pada produk hand made, barang-barang produk China kian membanjiri pasar internasional, termasuk amerika. Boleh jadi ini yang menjelaskan mengapa mereka mem-back up China menjadi anggota WTO, meskipun neraca perdagangan antara keduanya cenderung negatif bagi Amerika (kurang lebih $200 juta, lihat Jurnal FPIF desember 2006) ketimbang rasio dagangnya dengan negara lain diluar china.
Yang menarik, China merespon dengan positif pelbagai kenyataan historik ini, dengan, seperti diungkapkan duta besarnya pada PBB diatas,. terus memainkan peran sebagai negara yang lemah, kecil dan kurang berpengaruh versus Amerika. Kendatipun bagi negara-negara lain, sikap china ini tidak lebih dari free rider ketimbang challengger atau sebagaimana dengan hidup dilukiskan feffer sebagai “the strong silent type that plays off the brash U.S. cowboy”
Namun demikian, semuanya tetap samar dan cenderung sumir. Seseorang yang terpaksa berkompromi dengan musuh pada hakekatnya cenderung temporer, konditional dan pasti memiliki hidden agenda yang sebaik-baiknya dibungkus dengan sikap dan bahasa yang sopan- lembut (soft spoken), akan menampakkan watak aslinya, kelak.atau dengan kata lain, sekali musuh tetap musuh. Demikian jiuga hemat saya dalam relasi kedua negara ini.
Pepatah lawas yang hampir seringkali kita dengarkan dalam politik, “tiada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri” terasa sangat kental nuansanya disini.
Sangat beralasan jika amerika memandang china dengan gundah, dan pada saat yang tetap memosisikan China sebagai ”strategic kompetitor” yang bisa saja mengusik kemapananyanya sebagai negara super power, terutama di bidang militer. China sebaliknya tetap “menghormati” AS dengan meminkan perannya sebagai free rider, sambil pada saat yang sama mencari kesempatan terbaik untuk melepaskan upper cut kepada Amerika.
Dengan capital-capital yang dimilikinya saat ini, potensi itu nyata ada dan tidak mustahil akan terjadi. Yang pasti bagi negara-negara lain, kondisi ini akan lebih baik dan ideal, karena Amerika terutama tidak lagi akan menjadi negara yang dominan dalam konstelasi politik-ekonomi internasional. Ada China sebagai penyeimbang (balancer) sambil pada saat yang sama tidak perlu masuk kembali pada rivalitas model bipolar yang pernah terjadi sebelumnya. Di titik ini terjadi multipolar dan boleh jadi sebuah new world order akan terbentuk, dengan kedua negara tersebut sebagai bukan panglima (leader), tetapi lebih sebagai Primus Interpares, yang pertama dan berpengaruh.
Senin, 21 Juli 2008
Jumat, 06 Juni 2008
the first
pada mulanya adalah langkah......langkah itu akan menjadi langkah-langkah. langkah-langkah itu adalah perjalanan...
Langganan:
Postingan (Atom)